Menu Melayang

Hanya Tampil di HP

Tidak Tampil di HP

Punya Hasad dan Iri Hati Tak Termasuk Penghuni Surga

Punya Hasad dan Iri Hati Tak Termasuk Penghuni Surga

Sahabat Yayasan Nurul Jannah dimanapun anda berada, jika sahabat sekalian masih Punya Hasad dan Iri Hati Tak Termasuk Penghuni Surga, karena surga bukan tempatnya orang-orang yang iri terhadap keberhasilan orang lain, surga bukan tempat iri terhadap istri cantik orang lain dan surga bukanlah tempat para pendengki atas kesuksesan orang lain.

Oleh karena itu, mari kita sama-sama untuk saling merendahkan hati, memandang keberhasilan orang lain sebagai tempat berbenah diri terhadap apa yang kita miliki.

Jika sobat adalah seorang pebisnis online atau seorang blogger, Jangan pernah iri dengan blog atau website orang lain banyak pengunjungnya, karena bisa jadi pemiliknya itu bersusah-payah dalam mencari pengunjung dan jangan iri juga dengan penghasilan dari blog orang lain, sehingga akan memunculkan hasad untuk berbuat keburukan terhadap blog orang lain.

Dan sebaliknya, sifat sombong atas keberhasilan diri sendiri alangkah baiknya untuk dihilangkan, karena apapun yang kamu dapat dalam dunia ini semua atas izin Allah Subhaanahu wa ta'ala. Tidak ada satu mahluk hidup 1 pun yang mampu bergerak tanpa kehendak Allah.

Oleh sebab itu pendidikan agama sangatlah penting untuk kita dalami secara menyeluruh, agar perubahan zaman dan kecanggihan technology tidak membuat seseorang hancur keimanannya karena tergoda dengan berbagai cobaan dunia gemerlap yang hanya bersifat sementara.

Dibalik judul diatas, saya akan menceritakan kisah tentang seorang sahabat yang masuk surga karena tidak punya hasad dan iri hati, dan semoga saja kisah tentang sahabat ini bisa memberikan manfaat serta bisa diambil Hikmahnya bagi kita semua untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dan perlu kita ketahui bahwa semua orang ingin menjadi ahli surga dan tak sedikit yang mendambakan surga tertinggi.

Kisah Sahabat Penghuni Surga karena Tak Punya Hasad dan Iri Hati

Kisah Sahabat Penghuni Surga karena Tak Punya Hasad dan Iri Hati

Berikut kisah sahabat Nabi penghuni surga yang layak kita jadikan pelajaran berharga. Amalannya biasa saja, bukan ahli tahajud dan bukan pula ahli sedekah.

Tetapi kesalehan batiniyahnya menjadikannya ahli surga sebagaimana disebut oleh Nabi Muhammad Shawlallahu 'Alaihi Wassalam (SAW).

Kisah ini cukup masyhur dan diketengahkan dalam Musnad Imam Ahmad, Al-Zawajir 'an Iqtiroful Kabair, Musnad Abdullah Bin Mubarok, dan Syarhus Sunnah Imam Baghowi.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba beliau berkata:

يَطْلُعُ الْآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

"Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga."

Kemudian seorang laki-laki dari Anshar (penduduk Madinah) lewat di hadapan mereka dengan bekas air wudhu yang masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esoknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda lagi:

Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.

Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki itu, lalu ia berkata kepadanya:

"Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku dan berjanji tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan aku menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu."

Laki-laki Anshar itu menjawab: "Silahkan!"

Anas berkata bahwa Abdullah bin Amr setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki itu tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail. Hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang Subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah bin Amr juga mengatakan: "Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik."

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah bin Amr menganggap remeh amalnya. Ia berkata:

"Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda:
"Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga." Selesai beliau bersabda, yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.(alert-success)
"Saya jadi penasaran mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?" tanya Abdullah bin Amr.

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab:

"Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya."(alert-passed)

Abdullah bin Amr berkata:

"Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya."

Demkian kisah sahabat Anshor penghuni surga itu. Beliau bukan ahli ilmu seperti Sayyidina Ali atau Sayyidina Abu Bakar dan Utsman sang dermawan. Tetapi seorang yang menjaga hati dari hasad dan iri hati.

Dari kisah ini dipetik hikmah ternyata surga itu diperoleh bukan hanya sekadar atas kesalehan zahir, tetapi juga karena kebersihan hati.

Surga itu tempat yang suci dan bersih yang disediakan bagi mereka yang tidak memiliki kebencian terhadap saudara muslim lainnya.(alert-warning)

Kebanyakan sahabat Nabi mengangap bahwa orang paling mulia di antara mereka adalah yang bersih hatinya dari kebencian kepada siapapun dan paling sedikit gibahnya.

Sofyan bin Dinar pernah bertanya kepada Abu Bisyir: "Bagaimanakah keadaan sahabat Nabi?

Beliau menjawab: "Mereka amalannya sedikit akan tetapi pahalanya besar?"

Beliau ditanya lagi: "Apa sebabnya?"

Beliau menjawab: "Disebabkan karena kebersihan hati mereka."

Dalam satu hadis dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Tidak dibenarkan hasad kecuali dalam dua hal. Pertama, terhadap seseorang yang diberi anugerah oleh Allah berupa harta lalu dia menafkahkannya di jalan yang benar. Kedua, terhadap seseorang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga kisah ini menjadi iktibar bagi kita dan menjadi spirit untuk membersihkan hati kita dari segala penyakit hasad, iri, dengki, ujub, riya, dan penyakit lainnya.

Wallahu A'lam

Related Post

No comments:

Post a Comment

Back to Top

Contact Form

Name

Email *

Message *

Cari Artikel